Langsung ke konten utama

Postingan

Menjaga*

Ketika alam sudah rusak, yang biasanya kita lakukan adalah merawat, melestarikan, dan menjaganya agar kembali pulih. Kita menjaga alam karena kita membutuhkannya agar bisa tetap hidup. Tanaman, air, tanah dan semua elemen yang berasal dari alam bisa kita gunakan untuk kelangsungan hidup kita. Manusia.
Postingan terbaru

Indonesia Malas Membaca*

Jika anda memasukkan kata kunci ‘minat baca Indonesia’ di kolom mesin pencari Google, maka yang muncu di daftar pencarian teratas adalah ‘rendahnya minat baca di Indonesia’ dan ‘beberapa upaya untuk meningkatkan minat baca di indonesia’.

Si Perak, yang di Tertawakan*

Teriakan gembira menambah kebisingan di sekitar taman tugu pahlawan, semarang. Suara itu berasal dari gerombolan anak muda yang baru saja pulang dari lomba paduan suara mahasiswa di Universitas negeri Semarang. Tidaka ada yang menyangka kalau mereka akan mendapatkan medali perak. Ketua umum, pelatih, anggota baru, pengurus, tidak ada yang menyangkanya.

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Ternyata

yang indah ternyata bisa musnah
yang dipercaya ternyata bisa dusta yang disuka ternyata bisa membuat luka yang disayang ternyata bisa hilang yang dicinta ternyata bisa menyiksa yang cerdas ternyata bisa menindas yang baik ternyata bisa menjadi jahat yang bebas ternyata bisa mengekang yang hidup ternyata bisa mematikan hidup yang manusia ternyata bisa tidak manusiawi

Dari Menunda ke Menunda

Semester kemarin sudah berlalu. Harapan untuk terus menulis menjadi harapan dan menguap saja. Kesibukan bisa menjadi alasan, tapi tak konsisten tetaplah tak konsisten. Hal yang paling pantas dilakukan sepertinya hanya meresapi kekecewaan dalam diam. Terus menerus. Memang, masalahnya bukanlah ketidakmauan untuk memanfaatkan waktu, melainkan sudah sadar tak memanfaatkan waktu tapi tak segera beranjak menulis.